Saturday, February 21, 2015

Mawar Berlapis Baja

Rusuk remuk
Melayang, bulan menyerapnya
Tak ada penyangga
Penopang yang tertiup angin
Meniru sebuah tiang
Sekalinyapun tak sanggup
Awan yang bergemuruh
Angin yang sedang bergerutu
Sang dewi mencoba melerai
Seperti mengumpulkan debu
Sang dewi berada di tengah badai

Perang dimulai!
Saat ini semua berteriak
Bergerutu
Terbakar
dan memuncak
Tiga dari seratus
Tampak murung
Menyalahkan dirinya sendiri
Ketika kegelapan memuncak,
dan mereka yang animisme,
Animatisme.
Semua berada di dalam secangkir teh.

Akulturasi!
Sang prajurit menjerit seperti tikus kecil
Sang raja yang terjebak dalam kesunyian
Sang putri yang menjadi buta.
Hentikan!
Hentikan!
Oral, semua berbisik
Berbisik,
adapun yang bergumam.
Menjadi seperti ribuan ekor itik yang meminta makan
Oral, seketika menjadi hening

Transformasi, sang putri!
Berbaja,
bertameng.
Menjadi tangguh
Dia berapi-api
dengan tegap
Oral
Dia dapat menembus hujan
Tak perlu bantuan para itik, biarkanlah!
Dia tangguh,
Matanya bersinar
Api dan petir yang menempel di punggungnya
Terselimut oleh baja
Sekali lagi, biarkanlah!
Dia akan menyisir cakrawala
Mengusir semua gerhana

Dia adalah aku
Aku adalah dia
Dia dan dia
Menjadi
Aku dan aku
Mawar berlapis baja
Di kawal oleh ribuan pedang dan petir


-annisa putri septiani-

No comments:

Post a Comment