Hai hai! Siapa yang mengenal saya? Okay jika tidak ada yang mengenal saya, saya akan mencoba untuk mendeskripsikan diri saya sendiri. Karena, ada pepatah mengatakan "TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. TAK SAYANG MAKA, ..." (Okay isi aja deh sama kalian sendiri)
Saya adalah seorang makhluk (alay) bernama lengkap Annisa Putri Septiani. Sebut saja saya Annis (Manusia setengah lumba-lumba). Ya sebut saja begitu, hanya mengikuti pergaulan yang kekinian dengan menghubungkan antara manusia dan hewan. (semoga kalian tahu apa yang saya maksud)
Manusia ini tampaknya mempunyai perasaan nista kepada satu dari seribu miliyar monster-monster yang ada. Okay, sebut saja dia CICAK. Dia "NISTA" di mata saya, jangan tanya kenapa.
Skip tentang CICAK!
Asal kalian tahu, makhluk sedikit (alay) ini sedikit histeris jika melihat makanan. Karena sedikit kehisterisannya terhadap makanan, manusia ini berbeda jauh jika direndengkan atau bahasa kekiniannya "disama-samakan" saat ia SMP. Jangan tanya kenapa, dan apa yang terjadi. Dulu ketika makhluk ini SMP, dia terlihat seperti tiang listrik yang mencakar cakrawala. Dan jika kita lihat saat makhluk ini SMA. INGAT! SAAT DIA SMA! Makhluk ini hampir menyerupai tower DOTA yang tumbuh.(Saya tegaskan, JANGAN PERNAH MEMBAYANGKANNYA JIKA KALIAN TIDAK INGIN DI KUTUK OLEH MAKHLUK INI)
Okay, disini saya ingin bercerita tentang diri saya sendiri. Ya, menurut bahasa kekiniannya itu "CURHAT". Karena mama dedeh belum ingin ngundang makhluk berspesies sedikit (alay) ini, jadi apa boleh buat saya musti curhat dan nyampah di dinding suci ini.
Saya ingin curhat nih, beberapa bulan yang lalu atau kalian bisa di sebut dari tahun lalu. Ask Fm saya lapur. Bukan karena ke blokir atau apa, yang jelas saya lupa passwordnya. Okay, berhubung saya lupa passwordnya jadi saya hanya bisa buka akun itu hanya di laptop tercinta ini. Saya tidak ada niat untuk mengganti passwordnya. Kenapa? Karena saya tidak niat. saya mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang makhluk asing tepatnya ALIEN (ya, sebut saja begitu)
1. Kak kenapa kakak kalo ngomong kadang suka cepet, sampe sampe gue ga jelas lo ngomong apa.
(anon)
jawaban: Ade (siapa nama lo? di Anon sih -_-), ya saya cepet ngomongnya karena keluarga saya pada cepet ngomongnya. Intinya, ini semua sudah titisan dari emak. Ya, masalah ga jelasnya lo bayangin dah gue cadel dan emang faktor keluarga gue yang kalo ngomong cepet tanpa jeda. Tapi, gue bisa kalo ngomong sama lo gue pelanin satu huruf durasinya satu menit gue bisa. Tapi, yang jadi pertanyaannya sekarang LO SIAPA? TERUS GUE HARUS NGOMONG DENGAN DURASI YANG LAMBAT DENGAN SIAPA?
2. kak lo sebutin 10 fakta tentang lo!
(Felani Yustira)
Jawaban: manusia, sejenis vertebrata dan evertebrata, tinggi, besar, selalu bawa ransel kemana-mana, cameuh, cadel, tembem, tembem, tembem
3. kak lo udah punya pacar? kalo udah siapa? orang mana? kalo belum gue bisa nih.
(anon)
jawaban: udah. Aditya Rizky Ramadhan. Jakarta. Iya bisa noh sama nenek gue kebetulan dia single bentar lagi mau rilis album -_-
4. kak?
(adli)
jawaban: apa? (pertanyaan lo nggak seharusnya ada di blog gue. sumpah -"- )
5. Kak lo pernah disakitin sama cowo? Bagaimana pendapat kakak? Dan sikap kakak?
(anon)
Jawaban: Duh pertanyaanmu nak udah kaya reporter aja. :'>
Pernah de, Beberapa kali malah. Pendapat? yang jelas ya kecewa lah de. Sikap? Saya sih bukan org yang pendendam atau gimana, diemin aja. Ya paling saya ga nganggep dia ada/hidup/enyah dari muka bumi pun. it's oke wae :v
6. Nis casan aku ada di kamar kamu?
(Chika)
Jawaban: Baru kebuka kok. :'> aku sedih pertanyaan kamu terpampang di blog aku :'>
7. Nis jangan Puisi mulu dong Blog nya.
(anon)
Jawaban: Ini kagak. Ga percaya? Liat pertanyaan kamu masuk di blog saya. dadah dadah dulu atuh ke kamera :>
8. Gue ga akan nanya.
(anon)
Jawaban: ya terus -"- die aja die gih.
9. Nis ikutan stand up comedy gih?
(iman)
Jawaban: Ga ah takut menang :v
10. Kakak disuruh mama kerumah
(anon)
Jawaban: Mama siapa? lo jangan bikin modus penipuan baru yang menyangkut-nyangkutkan dengan mama deh. gue lelah dengan mama mama an yang sering nongol di sms minta pulsa. Dan sekarang? Jangan bilang gue suruh nyusul mama ke kantor polisi . Gue muaaaakkk :'>
Okay yang ingin bertanya bisa lewat e-mail ke annisaputriseptiani8@gmail.com. Jangan ke Ask Fm. Mulai dari hari ini Ask fm saya, tidak akan di lihat lagi :'>
Pena Si Mentari Senja
Monday, February 23, 2015
Saturday, February 21, 2015
Badai
Dimulai saat semuanya berbeda
dan hari kemarin yang tiba tiba menjadi bisu
Di malam tadi mimpi buruk menghampiri
Rasanya sakit, entahlah menusuk
Rasanya sakit, entahlah menancap
Rasanya sakit, entahlah tersangkut
Enyahlah!
Enyahlah!
Menoleh pun tak sanggup
Biar embun yang berceloteh
Ketakutan
Ketakutan
Aku takut itu datang di hari esok
Saat sang fajar menyapa
Senyumannya tak dapat di artikan
Bahkan seekor burung pun bertanya
Angin, matanya seketika ikut berputar
Gunung bersembunyi
Siapa yang dapat menjelaskan ini semua?
Jelaskan kepada bunga bunga itu
Jelaskan kepada embun diatasnya
Sampaikan kepada ku
Semua tampak bisu kembali
Angin pun tak meniup layar
Ombak pun menjadi jinak seketika
Semua bisu dan enyah
Tolonglah!
Aku butuh sedikit bisikan, untuk mengartikannya
-annisa putri s-
dan hari kemarin yang tiba tiba menjadi bisu
Di malam tadi mimpi buruk menghampiri
Rasanya sakit, entahlah menusuk
Rasanya sakit, entahlah menancap
Rasanya sakit, entahlah tersangkut
Enyahlah!
Enyahlah!
Menoleh pun tak sanggup
Biar embun yang berceloteh
Ketakutan
Ketakutan
Aku takut itu datang di hari esok
Saat sang fajar menyapa
Senyumannya tak dapat di artikan
Bahkan seekor burung pun bertanya
Angin, matanya seketika ikut berputar
Gunung bersembunyi
Siapa yang dapat menjelaskan ini semua?
Jelaskan kepada bunga bunga itu
Jelaskan kepada embun diatasnya
Sampaikan kepada ku
Semua tampak bisu kembali
Angin pun tak meniup layar
Ombak pun menjadi jinak seketika
Semua bisu dan enyah
Tolonglah!
Aku butuh sedikit bisikan, untuk mengartikannya
-annisa putri s-
Mawar Berlapis Baja
Rusuk remuk
Melayang, bulan menyerapnya
Tak ada penyangga
Penopang yang tertiup angin
Meniru sebuah tiang
Sekalinyapun tak sanggup
Awan yang bergemuruh
Angin yang sedang bergerutu
Sang dewi mencoba melerai
Seperti mengumpulkan debu
Sang dewi berada di tengah badai
Perang dimulai!
Saat ini semua berteriak
Bergerutu
Terbakar
dan memuncak
Tiga dari seratus
Tampak murung
Menyalahkan dirinya sendiri
Ketika kegelapan memuncak,
dan mereka yang animisme,
Animatisme.
Semua berada di dalam secangkir teh.
Akulturasi!
Sang prajurit menjerit seperti tikus kecil
Sang raja yang terjebak dalam kesunyian
Sang putri yang menjadi buta.
Hentikan!
Hentikan!
Oral, semua berbisik
Berbisik,
adapun yang bergumam.
Menjadi seperti ribuan ekor itik yang meminta makan
Oral, seketika menjadi hening
Transformasi, sang putri!
Berbaja,
bertameng.
Menjadi tangguh
Dia berapi-api
dengan tegap
Oral
Dia dapat menembus hujan
Tak perlu bantuan para itik, biarkanlah!
Dia tangguh,
Matanya bersinar
Api dan petir yang menempel di punggungnya
Terselimut oleh baja
Sekali lagi, biarkanlah!
Dia akan menyisir cakrawala
Mengusir semua gerhana
Dia adalah aku
Aku adalah dia
Dia dan dia
Menjadi
Aku dan aku
Mawar berlapis baja
Di kawal oleh ribuan pedang dan petir
Melayang, bulan menyerapnya
Tak ada penyangga
Penopang yang tertiup angin
Meniru sebuah tiang
Sekalinyapun tak sanggup
Awan yang bergemuruh
Angin yang sedang bergerutu
Sang dewi mencoba melerai
Seperti mengumpulkan debu
Sang dewi berada di tengah badai
Perang dimulai!
Saat ini semua berteriak
Bergerutu
Terbakar
dan memuncak
Tiga dari seratus
Tampak murung
Menyalahkan dirinya sendiri
Ketika kegelapan memuncak,
dan mereka yang animisme,
Animatisme.
Semua berada di dalam secangkir teh.
Akulturasi!
Sang prajurit menjerit seperti tikus kecil
Sang raja yang terjebak dalam kesunyian
Sang putri yang menjadi buta.
Hentikan!
Hentikan!
Oral, semua berbisik
Berbisik,
adapun yang bergumam.
Menjadi seperti ribuan ekor itik yang meminta makan
Oral, seketika menjadi hening
Transformasi, sang putri!
Berbaja,
bertameng.
Menjadi tangguh
Dia berapi-api
dengan tegap
Oral
Dia dapat menembus hujan
Tak perlu bantuan para itik, biarkanlah!
Dia tangguh,
Matanya bersinar
Api dan petir yang menempel di punggungnya
Terselimut oleh baja
Sekali lagi, biarkanlah!
Dia akan menyisir cakrawala
Mengusir semua gerhana
Dia adalah aku
Aku adalah dia
Dia dan dia
Menjadi
Aku dan aku
Mawar berlapis baja
Di kawal oleh ribuan pedang dan petir
-annisa putri septiani-
Tuesday, December 9, 2014
Akankah Kembali menyapa
(Annisa Putri Septiani)
Sebuah perasaan berdesir
Ombak yang menabrak keras
Hingga karang pun tiada
Tidak hilang
Hanya sebuah karang terbawa arus
Seolah tertelan bumi
Dan tertancap pedang
Menyakitkan memang
Berada di dasar samudra
Kini
Tak dapat kembali merasakan
Senja yang memeluk
Kini tak lagi
Senja yang menatap
Kini telah tiada
Hanya harapan kini
Sebuah pertemuan kembali
Agar pesan yang tak tersampaikan
Dapat didengarnya
Dapatkah semua kembali menyapa
Saat ini
Hanya dalam kegelapan aku berada
Aku dan dasar Samudra
Sebuah perasaan berdesir
Ombak yang menabrak keras
Hingga karang pun tiada
Tidak hilang
Hanya sebuah karang terbawa arus
Seolah tertelan bumi
Dan tertancap pedang
Menyakitkan memang
Berada di dasar samudra
Kini
Tak dapat kembali merasakan
Senja yang memeluk
Kini tak lagi
Senja yang menatap
Kini telah tiada
Hanya harapan kini
Sebuah pertemuan kembali
Agar pesan yang tak tersampaikan
Dapat didengarnya
Dapatkah semua kembali menyapa
Saat ini
Hanya dalam kegelapan aku berada
Aku dan dasar Samudra
Monday, December 8, 2014
I'm not a Terrorist!
Matahari pagi menyambut
Awan yang menyimpan banyak cerita
Burung-burung menyapa
Udara yang selalu berusaha untuk berbicara
Dengan kain yang menutupi kepala
Yang setia menjaga
Hijab
Semua orang tahu itu
Ribuan pasang menatapku
Tajam dan bergitu menusuk
Kadang terdengar sebuah perbincangan
Melewatiku lalu menusuk
Apa?
Ada apa?
Kenapa?
Apa yang terjadi?
Tatapan-tatapan yang mengarah ke atas
Bukan langit yang mereka lihat
Tatapan itu pun tidak untuk burung-burung
Lantas?
Ya, kepalaku
Kepala yang ditutupi oleh kain ini
Hijab
Mereka tahu itu
Sebuah perbincangan api
Api yang loncat dan mengenai bola mata
Sebuah mata pedang yang menusuk hati
Menancap dengan abadi
Mawar putih yang menatap tajam
Gagak yang selalu berbincang
Dan aku
Objek semua itu
"Dia teroris!"
Bahasa asing yang dapat ku tangkap
"Dia aneh!"
Mereka terus-menerus seperti itu
Teroris?
Siapa?
Hati-hati?
Untuk apa?
Maksud semua ini apa?
Apakah karena hijab ini?
Ada apa dengan hijab ini?
Apa aku salah?
Ribuan pertanyaan menghampiri
Tak ada yang bisa menjawab
Pertanyaan yang seperti angin
Tak ada yang ingin menjawabnya
Perbincangan-perbincangan kembali terdengar
Kali ini sangat jelas
Melewat di depan gendang telinga
Memberi sebuah yang dapat dipahami
"Dia hijab. Dia teroris"
Seekor burung gagak teriak keras
Semuanya menjadi lebih tajam
Tajam dan lebih tajam
Apa yang baru dia bicarakan?
Aku?
Teroris?
Apa maksud dengan ini?
Apa mereka mengerti?
Tidak
Apa mereka tahu?
Ya
Lantas mengapa?
Tak adakah yang menutupnya?
Semua menjawab nya
Dan bisa kulihat
Penjelasan?
Ya, tentu saja aku harus melakukannya
Harus
Dan Harus
Akan ku mulai
Hai dunia!
Apakah kalian mengetahui
Hanya karena menggunakan hijab
Tidak berarti aku seorang teroris
(Annisa Putri Septiani)
Sunday, December 7, 2014
Someday
(annisa putri septiani)
terpancar sebuah cahaya
seakan membuat buta
sayap yang membentang
matahari senja itu tampak nyata
kulihat dan tersenyum
ribuan yang ingin ku ungkap
jutaan yang ingin ku perlihatkan
hanya saja tak dapat
malaikat yang tersenyum
kutulis dalam helai suci
tak ada keberanian
hanya saja menjadi kecil
hanya dapat menyimpannya
dan menjaganya
terkadang menjadi sebuah pisau
menusuk dan menyakitkan
terkadang tusukan ini terjadi
menyakitkan lebih dari ujung pedang
terkadang menjadi sebuah taman
dipenuhi kupu-kupu
apa yang harus kulakukan?
gelap dan gelap saat itu
sebuah lorong gelap tak berujung
menakutkan
ya, hanya saja rasa takut
takut dan takut
satu kata yang membunuh
dapat kurasakan
lihatlah
lihatlah
agar tak perlu bersusah payah
dan terpaksa menyatakannya
hanya sebuah kerikil
tersembunyi di balik bebatuan lainnya
berharap senja menyapanya
dan memeluknya
ooh, ini hanya sebuah mimpi
tanah dan langit tak dapat bersatu
"tidak!" ku dapat mengetahuinya
ini bukan sebuah mimpi
suatuhari nanti
malaikat surga akan menciumnya
dimana helai-helai suci
menempel di sayapnya
terpancar sebuah cahaya
seakan membuat buta
sayap yang membentang
matahari senja itu tampak nyata
kulihat dan tersenyum
ribuan yang ingin ku ungkap
jutaan yang ingin ku perlihatkan
hanya saja tak dapat
malaikat yang tersenyum
kutulis dalam helai suci
tak ada keberanian
hanya saja menjadi kecil
hanya dapat menyimpannya
dan menjaganya
terkadang menjadi sebuah pisau
menusuk dan menyakitkan
terkadang tusukan ini terjadi
menyakitkan lebih dari ujung pedang
terkadang menjadi sebuah taman
dipenuhi kupu-kupu
apa yang harus kulakukan?
gelap dan gelap saat itu
sebuah lorong gelap tak berujung
menakutkan
ya, hanya saja rasa takut
takut dan takut
satu kata yang membunuh
dapat kurasakan
lihatlah
lihatlah
agar tak perlu bersusah payah
dan terpaksa menyatakannya
hanya sebuah kerikil
tersembunyi di balik bebatuan lainnya
berharap senja menyapanya
dan memeluknya
ooh, ini hanya sebuah mimpi
tanah dan langit tak dapat bersatu
"tidak!" ku dapat mengetahuinya
ini bukan sebuah mimpi
suatuhari nanti
malaikat surga akan menciumnya
dimana helai-helai suci
menempel di sayapnya
Subscribe to:
Posts (Atom)